Minggu, 06 Juni 2010

Ingin Berhaji dengan Bambang




Jika tak ada aral melintang, tak sampai hitungan lima tahun yang akan datang, niatan Hairul Anwar, warga Padang Karet Kecamatan Pagaralam Selatan untuk memberangkatkan ibadah haji 15 orang sekaligus, bakal terlaksana. Bukan niatan yang mustahil apalagi sekadar bualan, sebab 5000 batang pohon bambang yang sudah ia tanam sejak tahun 2005 kini telah tumbuh meninggi. Belum lagi jika mengingat harga kayu bambang yang sudah berusia 12-15 tahun saat ini bisa mencapai 2-3 juta per batang, sungguh bukan nominal yang sedikit.
Bambang atau bambang lanang, yang dikenal juga dengan nama kayu medang bambang, banyak terdapat di Lematang Ulu. Umumnya bambang tumbuh dan berkembang di dataran pada ketinggian 150 mdpl. Saat ini, pohon bambang mudah dijumpai pada beberapa wilayah di Kabupaten Lahat dan Kota Pagar Alam. Kayu jenis ini sudah lama digunakan oleh masyarakat di sekitar Kota Pagaralam sebagai bahan bangunan karena kayunya yang kuat serta awet. Secara tradisional petani telah membudidayakan kayu bambang dengan motivasi awal untuk memenuhi konsumsi kayu pertukangan bagi keluarga. Selain itu, masyarkat juga menanam tanaman bambang sebagai pagar tanaman perkebunan.
Sejurus dengan tanaman ini, Hairul mengisahkan bahwa pada mulanya sebagian besar keluarganya hampir tak ada yang setuju dan menjadi gelisah ketika ia memutuskan untuk menanam pohon bambang di areal kebun kopi miliknya, bahkan juga istrinya sendiri. Lantaran keputusannya untuk menanam kayu bambang waktu itu dianggap sebagai tindakan merusak kebun kopi yang sudah sekian lama menjadi andalan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Demi memahami kegelisahan keluarga besarnya tersebut, Hairul yang tetap kukuh ingin menanam pohon bambang akhirnya menemukan cara untuk berkompromi, yakni dengan menanam pohon bambang di sela-sela tanaman kopi. Sebab sepanjang yang ia tahu, secara langsung bambang tidak mengurangi hasil panen kopi. Jika pun mengurangi hasil panen kopi, namun jumlahnya tidak signifikan. Itu ia lakukan dengan harapan bahwa selain tanaman kopi tetap terus bisa menghasilkan, dalam jangka panjang ia juga memiliki harapan pada pohon bambang. Sekarang kegelisahan keluarga besarnya itu pun lenyap tak beralasan seiring tumbuh subur dan mulai meningginya pohon bambang di kebunnya. “Waktu itu saya hanya berpikir dan berhitung-hitung, kalau saya masih bertahan dengan kebun kopi semata, maka mustahil untuk membayangkan uang sebesar satu miliar dalam jangka waktu 10 atau 15 tahun. Jadi awalnya saya ambil dari nilai ekonomisnya saja,” ujarnya. Selain itu, saat ini ia sudah memiliki rancangan untuk meningkatkan hasil kebunnya dengan menanam cokelat sebagai pengganti tanaman kopi. “ Saat ini memang masih berupa rancangan. Tapi tetap akan saya realisasikan,menunggu saat yang tepat,” kata Hairul.
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa proses penanaman pohon bambang ia lakukan secara bertahap, dibantu oleh anak beserta beberapa teman sekolahnya setiap hari minggu. Selama lebih kurang 5 bulan, dimulai dari bulan Mei dan akhirnya penanaman selesai pada bulan September. “ Alhamdulillah tak sampai hitungan 10 batang yang mati, dari keseluruhan bibit lebih kurang 5000 batang yang kami tanam,” tuturnya. Sebelum penanaman dimulai, dua minggu sebelumnya telah ia persiapkan lobang sedalam satu cangkul yang diisi dengan pupuk kandang dengan jarak tanam 5 x 5 m. Jarak tanam itu menurutnya sudah ideal untuk penanaman pohon bambang, “ Tidak terlalu rapat dan tidak terlalu longgar,” katanya. Di lobang-lobang itulah bibit yang saat itu ia beli seharga Rp 400,- per batang ia tanam.
Karena ditanam di sela tanaman kopi, maka otomatis bibit bambang yang masih kecil akan terlindungi. Sebab katanya, selagi bambang masih kecil butuh pohon pelindung untuk melindungi dari sinar matahari langsung. Sedangkan untuk perawatannya, bambang juga tak memerlukan perlakuan khusus. “Sembari memupuk kopi, secara tak langsung juga memupuk bambang,” katanya Hairul yang juga memiliki usaha penggemukan sapi ini.
Hanya saja ketika bambang sudah mulai tumbuh membesar atau kira-kira sudah berumur lima tahun perlu dilakukan ‘pe-nyeset-an’, yakni mengelupas kulit luar bambang. Pengelupasan kulit luar bambang dilakukan persis seperti halnya ketika menyadap karet. Hairul menjelaskan bahwa pengelupasan itu dimaksudkan agar pohon bambang dapat membesar dengan cepat. “ Tapi tidak mutlak. Hanya sebaiknya memang dilakukan agar diameter kayunya lebih lebar dengan cepat,” jelasnya sembari mencontohkan.
Sudah Banyak yang Menawar
Belum lagi bambang yang ia tanam berusia lebih dari lima tahun, sudah banyak orang datang yang bermaksud menawar bambangnya. Ia menceritakan bahwa di antara orang yang datang menemuinya ada yang sampai rela meninggalkan mobil yang dibawanya serta sejumlah uang sebagai tanda jadi. “ Setiap orang yang datang saya selalu bilang, bahwa saat ini saya masih tetap belum mau jual bambang saya hingga waktunya nanti,” kisahnya. Meski begitu, masih saja orang berdatangan dengan maksud yang sama dan menawar dengan beragam harga. Ada yang menawar 1 juta sampai 2,5 juta per batang bahkan lebih, “ Ya, itu tadi. Sampai ada yang berniat meninggalkan mobilnya di rumah saya.” Lanjutnya. Namun ia tetap bergeming dan kukuh dengan pendiriannya, yakni belum akan menjual bambangnya untuk saat ini.
Ia sama sekali tidak menyangka jika bambang yang ia tanam beberapa tahun lalu ternyata mengundang minat begitu banyak orang. Apalagi jika mengingat beberapa tahun lalu ketika niat awal ia menanam bambang tidak mendapat persetujuan dari pihak keluarga besar. “ Itu semua sudah ada yang mengatur,”katanya merendah sembari melirik ke langit.
Melihat kayu bambangnya yang sudah mulai besar dan meninggi, saat ini Hairul Anwar boleh merasa lega dan berbangga hati bahwa apa yang dicita-citakannya sejak semula sudah mulai mendekati kenyataan. “ Insyaallah, jika bambang saya nanti laku, saya ingin memberangkatkan haji 15 orang sekaligus termasuk keluarga, tetangga dan orang-orang terdekat di hati saya.” Ujarnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar